Remehkan Kesehatan Gigi Picu Diabetes

JANGAN sepelekan sakit gigi. Sebab jika dibiarkan, kerusakan gigi yang serius bisa memicu timbulnya penyakit lain. Diabetes hanya satu dari banyak penyakit yang bisa hadir akibat sakit gigi yang ditelantarkan.

Umum diketahui bahwa penderita diabetes rata-rata mempunyai gangguan kesehatan gigi. Hal itu diperkuat dengan studi penelitian di Amerika Serikat (AS) yang menyatakan penderita kerusakan gigi kronis bisa menjadi pengidap penyakit diabetes tipe 2. Ahli diabetes dan gigi di Inggris menyetujui hasil riset itu walau perlu penelitian lebih dalam lagi.

Pada kerusakan gigi yang parah, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Cytokines inilah penyebab kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes.

Penemuan peneliti AS ini diumumkan saat simposium National Institute of Dental and Craniofacial Research di Maryland. Dr. Anthony Iacopino, ahli gigi di Marquette University School of Density, Wisconsin mengatakan bahwa di dalam pankreas, sel yang bertanggung jawab sebagai penghasil insulin dirusak oleh kandungan cytokines yang tinggi. Jika ini terjadi sekali saja, maka seseorang berpeluang menderita diabetes tipe 2, walaupun orang itu sebelumnya dalam keadaan sehat.

Menurut Iacopino, tingginya kandungan kolesterol dari glukosa yang dibutuhkan tubuh merupakan faktor utama pemicu risiko diabetes bagi orang yang mengalami kerusakan gigi. Dan kolesterol rendah dapat menolong orang sehat untuk tidak terserang problem gangguan gigi yang mampu memicu diabetes.

Untuk itu, penderita diabetes sebaiknya mengikuti diet rendah kalori, rajin mengonsumsi obat pengatur hormon insulin dan menjaga kesehatan gigi. Dan alangkah baiknya jika orang sehat juga ikut menjaga kesehatan giginya agar tidak berisiko terkena diabetes.

Radang gusi adalah jenis penyakit gigi yang paling ringan, disebabkan oleh bakteri dalam plak. Penyakit ini masih bisa disembuhkan, tapi jika disepelekan tanpa perawatan lebih lanjut bisa berkembang menjadi penyakit gigi yang parah juga. Plak yang menempel pada rongga antara gusi dan gigi mampu menimpulkan infeksi dan menyebabkan kasus serius. Bahkan pada stadium tertentu, gigi harus dicabut.

Diabetes merupakan kondisi di mana tubuh tidak mampu meregulasi kandungan glukosa. Artinya, tekanan darah bisa menjadi sangat tinggi. Pengobatan dengan insulin bisa membantu tubuh mengontrol jumlah glukosa pada aliran darah.

Pada diabetes tipe 2, insulin diproduksi sangat sedikit sehingga tidak cukup jumlahnya untuk keperluan tubuh manusia. Biasanya hal ini sangat berpengaruh pada orang berusia di atas 40 tahun. Untuk mengatasinya dibutuhkan diet teratur dan mengonsumsi pil atau suntikan reguler.

Juru bicara British Dental Association (BDA) mengatakan bahwa segala yang terjadi pada tubuh manusia selalu bisa dihubungkan dengan penyakit gangguan gigi. Maka bukan tak mungkin bahwa diabetes hanya salah satu gangguan kesehatan yang ada hubungannya dengan penyakit gigi. Ia juga menyarankan agar setiap orang membiasakan menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi flouride serta mengunjungi dokter gigi secara reguler.

(berbagai sumber/mer)

Sumber Sinar Harapan

Mengenal Nyeri Gigi dan Penanganannya

Meski kecil, sakit gigi menimbulkan nyeri yang luar biasa. Mengapa bisa begitu? Mengapa pula bisa menyebabkan kematian?

Nyeri gigi, biasanya muncul karena adanya rangsangan langsung pada gigi. Rangsangan itu bisa berupa minuman/makanan panas, dingin atau saat mengunyah. Nah, rangsangan-rangsangan seperti itu, menyebabkan peradangan pada pulpa (pusat syaraf gigi) yang terdapat pada setiap gigi.

Pulpa itu sendiri merupakan ujung dari serabut syaraf gigi yang sangat sensitif, sehingga bila ada rangsangan akan menimbulkan rasa nyeri yang berdenyut-denyut dan dapat terus berlangsung meski rangsangan berhenti.

Namun, peradangan pada pulpa bisa juga disebabkan oleh beberapa hal lain, seperti gigi berlubang, trauma, infeksi atau pasca pencabutan gigi. Sedang penyebab lainnya, adalah penyakit sinusitis, nyeri telinga, trauma pada sendi rahang dan penyakit jantung.

Nyeri Kunyah

Nyeri karena tekanan yang berlebihan, disalurkan melalui akar ke jaringan penyangga gigi. Gigi yang mempunyai permukaan kunyah yang lebih tinggi umumnya dimiliki oleh gigi yang baru ditambal. Gigi menjadi miring atau terlalu panjang. Pada kasus-kasus seperti ini, bila gusi di daerah puncak akar gigi diraba dengan ujung jari akan terasa sedikit nyeri dan bengkak.

Penanganan

Hindari mengunyah dengan menggunakan gigi tersebut. Dokter akan menyesuaikan permukaan gigi yang terlalu tingggi sehingga menjadi normal. Infeksi akar gigi memerlukan perawatan saluran akar, agar gigi bisa diselamatkan atau dicabut bila tidak bisa dipertahankan lagi.

Gigi yang terlalu sensitif

Dentin (kerangka gigi) sangat sensitif dalam keadaan terbuka, sehingga sangat mudah terangsang oleh dingin, rasa manis dan asam dari sisa makanan yang menempel, serta tekanan sewaktu mengunyah atau saat sikat gigi. Nyeri yang timbul merupakan reaksi yang sementara dari pulpa dan dentin yang terbuka. Sensitivitas ini berlangsung beberapa saat dan hilang bila rangsangan dihentikan.

Kerusakan gigi karena erosi enamel, bisa disebabkan karena zat asam yang dihasilkan oleh bakteri pada sisa makanan atau terlalu keras menyikat gigi. Selain itu, kebiasaan makan makanan yang kecutdapat melarutkan lapisan enamel sehingga dentin terbuka.

Penanganan

Sikatlah gigi dengan pasta gigi yang mengandung flouride. Periksakan ke dokter agar dilakukan penambalan pada dentin yang terbuka atau memoleskan flouride atau pelindung dentin, bila hanya sedikit dentin yang terbuka. Untuk pencegahan, hindarilah rangsangan panas, dingin dan makanan manis atau kecut.

Pertumbuhan geraham akhir

Tumbuhnya geraham akhir, yang biasanya terjadi di usia 20-an, bisa pula menimbulkan nyeri, yang kadang disertai pembengkakan. Biasanya lebih sering terjadi pada gigi bawah daripada gigi atas.

Nyeri dan bengkak disebabkan oleh infeksi di bawah gusi yang menutupi gigi yang sedang tumbuh. Sering sangat sakit jika digunakan mengunyah, karena gigi yang letaknya berlawanan justru menggigit gusi tersebut.

Kadang gigi geraham akhir tersebut posisinya miring, terbenam dan mendorong atau tertahan oleh gigi di sebelahnya. Ini disebabkan karena sempitnya ruang pada tulang rahang mulut. Daerah tersebut memang merupakan bagian yang sulit untuk dibersihkan, sehingga gusi mudah terkena infeksi dan gigi rusak.

Penanganan

Kumurlah dengan menggunakan air hangat yang diberi garam, untuk membersihkan daerah yang sulit tersebut. Untuk mengurangi rasa nyeri, minumlah obat pereda nyeri.

Sementara waktu, jangan digunakan untuk mengunyah. Periksakan ke dokter gigi, untuk mengeluarkan nanah atau kotoran, sehingga membuka daerah tersebut agar mudah dibersihkan.

Selain anti nyeri, dokter juga memberikan antibiotik bila ada infeksi. Bila infeksi telah mereda, gigi geraham yang terbenam atau impacted dapat dicabut agar tidak terjadi infeksi lagi.

Periksakan ke dokter gigi

Seringkali jika sakit gigi biasanya orang hanya memberikan obat anti nyeri tanpa diperiksakan lebih lanjut ke dokter gigi. Sebaiknya ubahlah kebiasaan lama tersebut. Sebab, nyeri memang hilang namun akan mudah kumat lagi.

Pengobatan dengan anti nyeri diberikan hanya untuk mengatasi nyeri sementara. Sedangkan penyebab nyerinya sendiri perlu diperiksakan ke dokter gigi. Pemeriksaan oleh dokter untuk mengatasi penyebabnya.

Jika berlubang akan ditambal atau dicabut jika gigi sudah tidak bisa dipertahankan lagi atau perlu tindakan lainnya untuk mengatasi nyeri. Gigi yang dibiarkan berlubang akan menjadi sarang kuman dan akan semakin memperparah pengrusakan gigi. Oleh sebab itu jangan tunda lagi, segera periksakan ke dokter gigi.

Jangan anggap remeh sakit gigi

Dari satu gigi yang terinfeksi, bisa menimbulkan penyakit lain yang tak terduga. Bahkan ada yang meninggal gara-gara sakit gigi. Kok bisa? Berikut beberapa penyakit yang dapat berasal dari gigi.

- Rheumatic heart disease (demam rematik)

Penyakit ini disebabkan karena adanya kuman streptococcus yang menyerang organ jantung. Kuman ini awalnya berasal dari infeksi gigi. Penderita kelainan katup jantung biasanya mempunyai riwayat terserang penyakit ini saat mudanya.

- Sinusitis

Selain ke jantung, kuman-kuman yang berasal dari gigi juga dapat menjalar ke daerah sinus tengkorak. Bila sampai ke sana, sinus akan meradang dan menjadi sinusitis.

- Radang selaput otak (meningitis)

Penyakit ini sering menyebabkan kematian. Lagi, gara-gara kuman dari gigi yang menyebar ke otak sehingga selaput otak meradang dan timbul panas yang disertai kejang.

- Alergi

Gigi yang berlubang (caries) menjadi sarang bermacam-macam sisa makanan dan kuman. Seringkali penyakit-penyakit alergi seperti gatal-gatal atau diare berawal dari lubang gigi yang mengandung sllergen (bahan penyebab alergi)

Gigi Sehat

Perawatan gigi yang teratur dapat mencegah nyeri dan permasalahan gigi lainnya.

Berikut tips agar gigi sehat :

– Makanan yang sehat. Bakteri akan tumbuh subur dengan adanya sisa gula dan tepung di gigi. Hindari makanan kecil yang manis dan lengket. Bahan-bahan ini dapat merusak enamel gigi. Jangan sampai ada sisa makanan di sela-sela gigi.

– Akhiri makan dengan buah sebagai pencuci mulut dan berkumurlah untuk membersihkan sisa makanan.

_ Sikat gigi sehabis makan atau paling tidak sehari 2 kali. Bersihkan sela-sela antar gigi sekali sehari dengan dental floss. Periksa gigi secara teratur minimal 2 kali dalam setahun.

– Cegah timbulnya gigi berlubang dengan pasta gigi berflouride.

– Hindari merokok. Merokok menyebabkan suasana mulut menjadi asam yang mempermudah pengrusakan gigi.

Sumber : Majalah Kesehatan….

Jangan Malu Mencontoh Pria Jepang

Untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut, perlu dilakukan perawatan. Dengan perawatan gigi, setidaknya bisa mengurangi risiko masuknya benda asing ke dalam mulut dan tubuh.

Cara yang paling mudah adalah dengan rajin menyikat gigi, terutama sehabis makan. Sisa makanan yang melekat di gigi bila dibiarkan akan menimbulkan plak. Rasanya kita tidak perlu malu mencontoh jepang. Di negeri tersebut terutama para prianya, selalu membawa sikat gigi di kantongnya. Di manapun mereka berada, sehabis makan sesuatu selalu menyikat giginya walau tanpa pasta gigi sekalipun.

“Sambil berbicara dengan teman< MEREKAPUN MENYIKAT GIGINYA> Tentunya hal itu sulit dilakukan di Indonesia, karena dianggap tidak sopan.” katanya.

Jika kondisi tidak memungkinkan untuk menggosok gigi, paling tidak melakukan kumur-kumur dengan air putih atau dengan air dari wastafel. Dengan berkumur akan menetralkan keadaan mulut. Lidahpun memiliki fungsi sebagai self cleansing. Secara otomatis lidah membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Atau bisa juga dengan obat kumur. Dental floss juga bisa digunakan untuk membersihkan plak dan sisa makanan yang terselip diantara dua gigi.

Jika ingin menggosok gigi setelah makan, dianjurkan ada jeda waktunya, yaitu sekitar 20-30 menit setelah makan. Karena ketika makan pH (kadar buffer) mulut manusia turun hingga titik kritis 5,5 dari pH normal 7. Jika keasamandalam mulut belum kembali normal dan langsung sikat gigi, justru akan mengakibatkan email gigi terkikis menjadi aus dan mudah berlubang.

Menggosok gigi dengan pasta gigi juga dianjurkan, namun jangan terlalu sering. Dalam pasta gigi salah satu bahan yang digunakan adalah deterjen, jika terlalu sering akan mengakibatkan terkikisnya email gigi. masih wajar menggosok dengan pasta gigi tiga kali sehari. Di Arab Saudi menggunakan kayu siwak untuk membersihkan gigi, mereka tidak perlu memakai pasta gigi.

Dalam menggosok gigi perlu diperhatikan tekniknya. Jangan menggosoknya terlalu keras. Untuk menyikat gigi, sebaiknya seperti orang memegang pensil, tidak terlalu ditekan.

Di areal gigi geraham gerakan sebaiknya memutar semua agar semua bagian bisa disikat. Jika menyikat terlalu kuat maka lama kelamaan gusi itu bisa terlepas perlekatannya dan akar gigi bisa terlihat. Membersihkan permukaan lidah dengan sikat juga diperlukan untuk mengurangi bau mulut.

Pemeriksaan berkala (rongga mulut) minimal enam bulan sekali sangatlah dibutuhkan untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut secara lebih awal. Terutama dalam melakukan pembersihan karang gigi.

Salah satu cara pencegahan yang belum cukup populer di Indonesia adalah pemeriksaan kualitas air liur dan email gigi. Idealnya, pemeriksaan ini dilakukan sekali seumur hidup. Kualitas keduanya sangat berpengaruh pada kemungkinan seorang akan mudah terserang gigi berlubang.

Jika seseorang mengeluhkan giginya mudah berlubang walau gizinya terjaga, penyebabnya karena air liur yang terlalu kental sehingga fungsinya melindungi gigi terhadap kuman akan berkurang. Jika terlanjur berlubang, dokter bisa melakukan penambalan gigi. Jika belum terlalu dalam biasanya dokter akan melapisi mahkota gigi atau email dengan flouride.

Tips merawat gigi dan mulut :

– Selalu menggosok gigi setelah makan, 20-30 menit sesudah makan.

– Selalu berkumur setelah mengkonsumsi cemilan.

– Pilihlah sikat gigi dengan bulu sikat yang tidak terlalu lembut atau keras, sesuaikan dengan ukuran mulut kita

– Gantilah sikat gigi setiap 3-4 bulan.

– Gunakan pasta gigi ber-flouride untuk melindungi email gigi.

– Menggosok gigi jangan terlalu keras, karena akan melukai gusi.

– Peganglah sikat seperti memegang pensil.

– Biasakan menyikat lidah untuk mengurangi bau mulut.

Sumber : Suara Pembaruan.

Sakit Gigi, Berjuta Rasanya

Sakit gigi? Aduh, mana tahan. Kalau lagi sakit gigi, perilaku orang bisa macam-macam. Tak sedikit yang jadi pemarah dan mudah tersinggung. Pendeknya, sakit gigi berjuta rasanya!

Atau, dengarlah sekali lagi cerita tentang ‘kekejaman’ sakit gigi : “Paling tidak enak kalau lagi sakit gigi. Buat mengunyah makananpun terasa sakit, belum lagi bila sakitnya itu terasa sampai ke kepala, nyut-nyutan rasanya” kata Lusi (27), karyawati swasta yang akan memeriksakan giginya di sebuah klinik.

Ah, pasti masih banyak lagi yang mengalami masalah seperti Lusi. Atau malah lebih heboh lagi. Yah, sakit berjuta rasanya.

Dalam seminar ilmiah “Promosi Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut” di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Sabtu 13/9 drg Risqa Rina Darwita dari FKG UI bagian kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan mengatakan keluhan dan penyakit gigi timbul karena kurang perhatiannya kita pada kebersihan dan kesehatan gigi.

“Sering kali kita meremehkannya. Padahal, kalau dipikir, lebih baik melakukan pencegahan daripada mengobati,” kata Risqa.

Untuk mencegah sakit gigi, kata Risqa, perlu adanya pengetahuan tentang perawatan gigi. Terutama mengenai gigi berlubang harus diwaspadai, jangan dianggap enteng.

Menurut risqa, penyakit dan keluhan yang sering dijumpai dan mudah dikenal oleh masyarakat adalah gigi berlubang. Bisa dikatakan, gigi berlubang merupakan angka paling tinggi kejadiannya di Indonesia, yaitu 80%. Selkain itu, ada penyakit gusi berdarah, sariawan, karang gigi dan bau mulut.

Secara umum, penyebab timbulnya karang gigi dan gigi berlubang serta penyakit gigi lainnya adalah plak. Plak yang tidak dibersihkan dari lapisan luar gigi akan menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut kan mengeluarkan zat yang bersifat asam dan sifat zat ini akan menghancurkan jaringan lunak (misalnya gusi).

Mikroorganisme, misalnya golongan streptococcus mutan bersifat menghancurkan jaringan keras gigi (email) Disamping itu, mikroorganisme juga mendukung perubahan plak yang tidak dibersihkan sehingga menjadi karang gigi.

Risqa menyayangkan masih banyak orang yang meremehkan masalah gigi berlubang. Banyak orang yang menganggap giginya tidak sakit, meski berlubang. “Hanya karena gigi berlubang, belum tentu terasa sakit,” kata risqa.

Gigi berlubang akan mulai terasa nyeri, sakit karena infeksi di akar gigi telah mencapai ujung-ujung syaraf.

Sebagai tambahan, ada pula yang mengeluhkan sakit gigi bagian belakang atau biasa disebut pertumbuhan geraham bungsu. Keadaan ini disebabkan karena gigi terakhir tidak dapat keluar dengan sempurna, sehingga sukarnya pembersihan untuk dilakukan pada gigi tersebut. Akibatnya terjadi peradangan pada jaringan penyangga gigi yang tidak disadari oleh individu. Pada akhirnya terjadilah infeksi pada jaringan penyangga tersebut.

Penyakit gigi dan mulut yang harus diketahui sejak dini adalah penyakit-penyakit yang mengenai jaringan lunak pada mukosa (selaput lendir pada pipi bagian dalam) mulut, bibir dan lidah, hingga yang mengenai kelenjar ludah. Penyakit-penyakit tersebut dapat pula menggambarkan keadaan suatu kelainan dari penyakit sistemik. Misalnya, ditemui banyak lagi lesistomatitis aphtosa (penyakit mukosa mulut) Yang tidak sembuh dalam waktu lama. Dapat dicurigai sebagai gejala dari terjangkit HIV/AIDS.

Adapun penyakit lain yang sering mengenai jaringan lunak disebabkan karena kekurangan unsur-unsur vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh jaringan mulut, misalnya pada bibir sumbing.

Menurut para peneliti, slah satu penyebab bibir sumbing karena kekurangan mineral seng. Penyakit gigi-mulut yang paling ditakuti antara lain penyakit kanker baik pada bibir maupun jaringan lunak lainnya di rongga mulut.

Oh ya, bau mulut itu pun sebenarnya juga menjadi masalah. Namun, sering kali terjadinya tidak saja pada orang yang sedang bermasalah pada giginya. Tak jarang pula diderita oleh mereka yang memiliki mulut yang sehat. Holitosis atau bau mulut bisa timbul selain dari ringga mulut itu sendiri, juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam tubuh, misalnya pada orang yang baru saja makan pete atau jengkol, merokok. Sedangkan dari rongga mulut disebabkan adanya gigi berlubang, gusi berdarah, karang gigi serta sejumlah air liur yang kurang dari jumlah normal.

Sumber Suara Pembaruan, Minggu 21 September 2003.

Mulailah Mencegah Kerusakan Gigi

Gigi berlubang membuat seseorang menderita. Tidak bisa makan, tidak bisa tidur, dan praktis tidak bisa bekerja. Boleh jadi bagi yang tidak kuat menahan sakit misalnya pada anak-anak, kesakitan itu menimbulkan tangis. Gigi berlubang juga bisa menimbulkan kerusakan pada organ lain seperti jantung dan ginjal. Hal semacam ini dikenal dengan infeksi fokal (infeksi yang berasal dari satu sarang penyakit).
Sayangnya, perhatian terhadap kesehatan gigi masih kurang. Tidak jarang perusahaan menanggung biaya berbagai penyakit yang diderita karyawannya, tetapi tidak untuk sakit gigi. Pada kondisi seperti ini, pencegahan merupakan hal yang terbaik. Selain tidak merasa sakit, seseorangpun tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati sakit giginya. Kerusakan gigi, kata drg Risqa Rina Darwita PhD dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, bisa dicegah.

Ada lima tahap yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan gigi atau kerusakan gigi yang lebih parah.

Pertama, promosi kesehatan mencakup kesehatan gigi di rumah, seperti menggosok gigi dan berkumur.
Kedua, perlindungan spesifik agar gigi tidak mudah sakit, misalnya gigi diberi lapisan bahan yang mengandung flouride. Tindakan ini dilakukan dokter gigi.
Ketiga, diagnosis dini dan terapi sesegera mungkin.
Keempat, membatasi kecacatan.
Kelima, rehabilitasi.

Menggosok gigi merupakan hal yang penting. Kemudian, berkumur. Di negara maju, seperti Jepang, orang selalu mengantongi sikat gigi kemanapun pergi. Ini menunjukkan masyarakat di negara itu sangat mementingkan kesehatan gigi.
Bila hendak memakai pasta gigi, dianjurkan yang mengandung flouride. Tetapi tidak berarti setiap menggosok gigi memakai pasta gigi. Pasalnya, pasta gigi juga mengandung deterjen (seperti bahan untuk pemutih gigi) Zat pemutih ini akan membuat email gigi menipis, yang ditandai dengn rasa ngilu pada gigi. Email gigi yang menipis berdampak pada dentin dan akhirnya saraf (kerusakan gigi).
“Kalau sering gosok gigi, cukup dengan sikat saja. Tidak perlu pakai pasta gigi. Dianjurkan menggosok gigi dengan pasta gigi tiga kali sehari. Kalau keseringan gosok gigi pakai pasta gigi tidak bagus. Gigi memang putih, tetapi email abrasi. Minimal gosok gigi dua kali sehari” ujar Risqa. Dituturkan, flouride bermanfaat membuat gigi semakin keras. Zat ini berikatan dengan zat kimia yang ada pada email gigi dan bisa bertahan berkisar 10 sampai 15 tahun.
Dengan flouride, gigi semakin lebih tahan terhadap zat yang bisa merusak gigi. Risqa menuturkan, diluar negeri, ketika gigi seorang anak berjumlah 20 pemberian lapisan flouride ini sudah dilakukan. Tetapi di negara berkembang, hal ini baru dilakukan ketika anak berusia enam tahun. Padahal, ketika itu gigi geraham tetap pertama sudah tumbuh. Namun, orangtua menganggap gigi si anak masih gigi susu. “Anak-anak yang biasa makan coklat, biasanya gigi geraham tetap pertama hilang karena dicabut,” tandasnya.

Obat kumur antiseptik.

Berkumur merupakan upaya melepaskan makanan yang menempel di sela-sela gigi. Berkumur dengan air putih merupakan cara yang paling murah. Kalau ingin berkumur dengan antiseptik, kata Risqa, bisa deangan air garam atau daun sirih. Antiseptik bermanfaat bagi yang sariawan dan orang yang bermasalah dengan bau mulut. Pemakaian antiseptik ini hendaknya sesuai aturan. Ada jangka waktu pemakaian obat kumur antiseptik, misalnya enam sampai sembilan jam.
Berkumur usai makan sangat dianjurkan, tetapi tidak harus selalu dengan obat kumur antiseptik. Pasalnya, bila sering memakai sntiseptik maka semua kuman akan mati. Justru yang tumbuh jamur. Bila berkumur tidak mempan menghilangkan makanan yang terselip di sela-sela gigi, bisa dilakukan dengan pemakaian tusuk gigi, gosol gigi ataupun benang gigi(dental floss). Jika kesulitan memperoleh benang gigi, menurut Risqa bisa memanfaatkan benang jahit.
Menggosok gigi dan berkumur menjadi hal penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Karena, penyebab masalah kesehatan itu adalah plak. Selain plak, kerusakan gigi juga disebabkan alkohol, merokok, dan ketidakseimbangan hormon. Tetapi yang umum adalah plak. Kalau plak didiamkan saja (tidak sikat gigi) maka semakin menumpuk dan semakin keras karena mangandung berbagai macam zat, misal Kalsium, Fosfor, Magnesium. Zat-zat ini berasal dari bakteri dan saling berekasi sehingga mengeras dan menjadi karang gigi.
Karang gigi, papar Risqa, bisa menyebabkan resesi gusi (posisi gusi menurun) Ini bisa diperbaiki dengan operasi atau penarikan. Selain resesi gusi, plak bisa juga membuat gigi berlubang dan gangguan pada gusi, khususnya pada gigi bungsu yang sulit dibersihkan dengan tuntas. Tak kalah penting adalah kepedulian orang tua membersihkan gigi anaknya. Terutama pada anak yang minum susu dari botol (memakai dot). Hal ini berpotensi menimbulkan plak yang berdampak pada rampan karies (gigi berlubang secara bersamaan dan keseluruhan). Ditambahkan, pemeriksaan gigi juga perlu dilakukan setidaknya sekali enam bulan. Karena proses suatu gigi berlubang memakan waktu enam bulan.

Sumber Suara Pembaruan, Nancy Nainggolan.

Pemakaian Antibiotik Serampangan Picu Penyakit Baru

Pemakaian antibiotik yang tidak tepat atau secara serampangan dapat mempengaruhi keseimbangan bakteri baik dan bakteri jahat dalam usus manusia. Hal ini pada gilirannya justru bisa memicu kembung, sariawan, sembelit, jamur dan diare.

Kesimpulan itu mengemuka dalam diskusi tentang probiotik atau mikroorganisme dalam tubuh manusia terutana di usus besar, baru-baru ini di Ubud, Bali.

Diskusi yang diprakarsai perusahaan farmasi PT Merck Tbk itu menghadirkan Kepala Sub BAgian Gzi Klinis Departemen Kesehatan dr Yustina Anie Indriastuti Msc dan Lektor Kepala Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Lanny Lestiani MSc.

Namun menurut Lanny, tidak semua bakteri dalam tubh bersifat patogen atau dapat menimbulkan penyakit. Dia mencontohkan bakteri Bifidobacteria dan Lactobacillus.

Sementara bakteri yang bersifat patogen, misalnya Staphylococcus, Enterococcus, Clostoridium dan sejumlah bakteri colli.

Untuk menjaga keseimbangan mikroflora usus agar tetap sehat dapat dimasukkan lebih banyak bakteri baik. Dengan cara ini, populasi bakteri yang baik dan menguntungkan bagi tubuh menjadi lebih dominan. Mekanisme kerja inilah yang disebut dengan prebiotik, kata Lanny.

Dia jelaskan lebih jauh, bakteri yang menguntungkan itu secara kompetitif akan mengalahkan pertumbuhan bakteri yang jahat.

Kompetisi akan berlangsung saat mengambil nutrisi untuk bakteri tersebut atau dalam perlekatannya di mukosa usus pada saat mulai terjadi infeksi.

Probiotik dia sebutkan dapat meningkatkan sintesis dan daya guna biologi nutrien.

Fermentasi dengan probiotik akan meningkatkan kandungan vitamin B2 dan B3 pada yogurt, vitamin B12 pada keju Cottage dan vitamin B6 pada keju cheddar, papadia.

Sumber : Suara Pembaruan

Mencegah Gigi Berlubang

Menurut drg.Benny cara mencegah gigi berlubang pada periode gigi-geligi bercampur/permanen adalah sebagai berikut :

– Pada periode transisi, kadang kala anak-anak sering masih malas membersihkan gigi. Karena itu, peran pengasuh (orang tua dan lain-lain) sangat penting untuk memberi contoh dan pengawasan. Gigi permanen yang baru tumbuh masih sangat rentan dan berisiko tinggi untuk berlubang. Jika gigi permanen rusak, selamanya akan rusak karena tidak ada lagi gigi pengganti.

– Kebersihan gigi perlu dijaga dan diintensifkan. Jika memang ada indikasi jangan segan-segan menggunakan fissure sealant (zat untuk menutup permukaan gigi). Fissure sealant sangat penting pada usia-usia itu untuk mengurangi risiko gigi berlubang, terutama pada gigi-geligi permanen yang baru tumbuh. Indikasinya adalah pada anak yang belum bisa menjaga kebersihan gigi secara baik, dan banyak lubang gigi pada gigi-geligi susunya.

– Bukan hanya sikat gigi yang cocok dan baik yang perlu diperhatikan, melainkan jangan ragu-ragu mempergunakan dental floss dan mouth rinse.

– Rajin-rajinlah berkonsultasikan dengan dokter gigi, meskipun keadaan gigi tidak sedang sakit. American Association of Orthodontist (AAO) dan British Orthodontic Society (BOS) merekomendasikan bahwa anak berumur minimal tujuh tahun harus dibawa ke dokter gigi/spesialis orthodontic untuk dimonitor apabila diperlukan perawatan.

– Untuk mencapai “kondisi susuan gigi-geligi ideal” perawatan orthodontic sangat dianjurkan, yaitu dilakukan pada usia pertumbuhan dan perkembangan. Pada usia 10-15 tahun akan terjadi puncak pertumbuhan badan, ketika perawatan orthodonti pada usia itu dianggap lebih optimal. Namun, kelainan-kelainan seperti gigi tonggos (bisa terjadi benturan) dan gigi cakil/nyame (menghambat pertumbuhan) dianjurkan untuk dirawat lebih dini.

Artikel ditulis drg. Benny M. Soegiharto (Dikutip dari Suara Pembaruan)

Penyebab dan Bahaya Bruxism atau Ngerot

Bruxism yang di Indonesia dikenal dengan istilah ngerot. Bruxism bisa didefinisikan sebagai suatu gerakan rahang di luar gerakan fungsional otot-otot pengunyahan (mastikasi) yang menyebabkan beradunya (grinding) gigi-geligi atas dengan bawah. Atau lazim pula dikenal dengan sebutan gerakan parafungsional.

Bruxism disebabkan oleh banyak hal (multifaktoral) alias tidak memiliki penyebab tunggal yang berdiri sendiri. Kadang kala malah bisa saja tidak diketahui faktor penyebab yang pasti. Beberapa hal yang bisa dianggap bisa menyebabkan bruxism adalah sebagai berikut.

a. Faktor Psikologis

Dalam hal ini stres fisiologis atau rasa takut/cemas yang berlebihan (ansietas).

Pada orang-orang tertentu, stres yang terpendam bisa keluar sebagai bruxism.

Pada orang dewasa, bisa terjadi stres akibat pekerjaan, masalah domestik, keluarga dan lain-lain.

Pada anak-anak itu bisa terjadi karena stres akibat beban pelajaran, lingkungan, keluarga, maupun lingkungan permainannya.

b. Terdapat gangguan oklusi (occlusal interference)

Misalnya, ada hambatan bagi pengidap untuk mencapai keadaan ketika gigi-geligi atas bisa bertemu dengan gigi-geligi bawah.

Perlu diketahui istilah oklusi sebenarnya secara umum artinya adalah keadaan ketika gigi-geligi atas dan bawah saling bertemu.

c. Kelainan Neuromuskular

Jarang terjadi.

d. Minuman yang mengandung kafein atau alkohol.

Pernah juga dilaporkan bahwa banyak konsumsi minuman yang mengandung kafein atau alkohol bisa meningkatkan risiko mengidap bruxism.

e. Berkaitan dengan pertumbuhan

Pada anak-anak terkadang bisa juga berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Anak-anak kadang kala mengerot karena gigi-geliginya yang tidak rata (atau gangguan oklusi) atau bisa juga sebagai suatu respons terhadap rasa “gatal” karena gigi-geligi yang mau tumbuh. Silakan melihat tabel pertumbuhan gigi.

bruxism2

Akibat

Umumnya gerakan itu tidak disadari, hanya saat bangun pagi biasanya pengidap merasakan otot-otot pipinya kencang atau pegal.

Gejala lain adalah rasa nyeri pada sendi rahang. Bilamana kebiasaan itu cukup parah, umumnya bisa dilihat adanya jejas (tanda-tanda) berupa permukaan gigi geligi yang “aus” (worn).

Gigi normal biasanya pada permukaannya terdapat semacam tonjolan (cusps) dan alur (grooves). Pada permukaan gigi yang aus, karakteristiknya biasanya hilang dan permukaan giginya jadi rata dan licin/halus.

Namun, bukan berarti setiap orang yang memiliki permukaan gigi “aus” berarti dia menderita bruxism karena ausnya permukaan gigi bisa

disebabkan oleh hal lain. Misalnya frekuensi konsumsi makanan/minuman yang bersifat asam seperti pempek, cola drinks, fruit juice, dan

lain-lain. atau penggunaan sikat gigi yang tidak benar. Akibat lain, bisa terlihat adanya jejas pada tepi lidah dan mukosa pipi.

Pada kasus yang ekstrem, jika kondisi jaringan pendukung gigi (gusi dan tulang sekitarnya) tidak sanggup lagi menahan beban tekanan kunyah yang berlebihan, jaringan pendukung gigi itu pun bisa rusak dan gigi bisa goyang, bahkan bisa mati.

Penanggulangan

Tindakan yang perlu dilakukan pertama kali adalah mencegah rusaknya gigi-geligi, termasuk struktur pendukungnya akibat ngerot. Caranya bisa

dengan memasang splint yang berbentuk semacam mouth guard untuk petinju, tetapi dalam bentuk yang lebih tipis dan tidak besar. Splint bertujuan agar permukaan gigi geligi tidak saling bertemu. 

Selain terapi dengan splint, bilamana diperlukan, dokter gigi akan melakukan occlusal adjustment atau berusaha merawat, agar oklusi pasien

menjadi ideal, serta menghilangkan gangguan oklusi. Salah satunya bisa dengan perawatan orthodonti / kawat gigi.

Sedangkan untuk mencegah gigi “aus” itu sendiri bisa dibantu dengan menjaga konsumsi makanan/minuman yang bersifat asam seperti pempek (dengan bumbunya yang asam), cola drinks, fruit juice, dan lain-lain.

Yang tidak kalah penting adalah menelusuri kondisi psikologis sang penderita. Keterbukaan untuk berkomunikasi adalah kuncinya agar kita

bisa mengetahui social history pasien. Kalau anak mungkin peran orangtua sangat besar untuk mengetahui kepribadian anak, kebiasaan anak, kondisi keluarga, dan sebagainya.

Anak-anak yang hiperaktif juga bisa menderita bruxism. Bisa pula sang anak stres terhadap tuntutan pelajaran yang tidak bisa dikemukakan

karena kemampuan berartikulasi masih sangat terbatas. Bisa pula karena orangtua yang terlalu “keras” dalam menanamkan disiplin pada anak.

Tekanan Batin

Dr Benny pernah merawat seorang pasien yang bruxism sejak kecil hingga dewasa karena luka batin terhadap orangtuanya yang terlalu “keras”. Karena anak tidak bisa protes, dia pun menahan tekanan batinnya selama ini dengan “ngerot”. Bilamana sang anak suka menghisap jari/ibu jari, atau menggigit-gigit kuku, pensil, dan lain-lain, terkadang bisa menjadi tanda bahwa dia mungkin ngerot pada malam harinya.

Ada beberapa gambar yang mungkin bisa sedikit memberi gambaran keadaan akibat bruxism yang parah sekali, dan gambar splint yang dijelaskan di atas, agar mudah membayangkannya.

Benny M. Soegiharto

DDS (Jakarta), MSc (London), MOrthRCS (England).

Department of Orthodontics Eastman Dental Institute and Hospital

University College London 256, Grays Inn Road, London, WC1X 8LD United

Kingdom

(Sumber Milis Canimed)

Gigi Sebagai Sumber Penyakit Jantung

Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di negara maju.

Di AS saja diperkirakan 12,4juta orang menderita penyakit ini dan 1,1juta orang akan terkena gangguan jantung serius tahun ini.

Tahun 2000, 16,7juta penderita meninggal karena penyakit ini, atau sekitar 30,3% dari total kematian di seluruh dunia. Lebih dari setengahnya dilaporkan dari negara berkembang. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung dari tahun ke tahun terus meningkat.

Di samping faktor risiko klasik (merokok,obesitas, kadar kolesterol, tekanan darah tinggi, kurang aktivitas, diabetes mellitus, stres), hasil penelitian akhir-akhir ini menyebutkan bahwa reaksi peradangan (inflamasi) dari penyakit infeksi kronis mungkin juga jadi faktor risiko. Meskipun begitu, hanya penyakit gigi kronis yang terbukti terkait dengan penyakit jantung.

Mekanisme penyebaran

Penyebaran penyakit dari gigi ke organ tubuh lain dapat dijelaskan lewat teori fokal infeksi. Fokal infeksi adalah infeksi kronis di suatu tempat dan memicu penyakit di tempat lain. Racun, sisa-sisa kotoran, maupun mikroba penginfeksi bisa menyebar ke tempat lain di tubuh, seperti ginjal, jantung, mata, kulit. Dampak penyakit gigi pada jantung dapat berupa penyakit jantung koroner, peradangan otot, serta katup jantung (endokarditis).

Bakteri yang terikut aliran darah bisa memproduksi enzim yang mempercepat terbentuknya bekuan darah sehingga mengeraskan dinding pembuluh darah jantung (aterosklerosis). Bakteri dapat juga melekat pada lapisan (plak) lemak di pembuluh darah jantung dan mempertebal plak. Semua itu, menghambat aliran darah serta penyaluran sumber makanan dan oksigen ke jantung, sehingga jantung tak berfungsi semestinya.

Gejala awal dapat berupa nyeri dada, meliputi rasa seperti terbakar, tertekan, dan beban berat di dada kiri, yang dapat meluas ke lengan kirir, leher, dagu dan bahu. Nyeri dada juga terasa di bagian tengah dada selama beberapa menit. Setelah kejadian biasanya diikuti rasa mual, muntah, pusing, keringat dingin, tungkai serta lengan menjadi dingin, nepas terengah-engah, dan sesak napas.

Angina berkepanjangan akan menjurus ke serangan jantung (miokard infark). Namun sering kali penyakit jantung koroner berlangsung tanpa adanya gejala, ia tidak menimbulkan masalah sampai keadaaannya sudah parah.

Kemungkinan lain, reaksi peradangan yang disebabkan oleh penyakit gigi meningkatkan pembentukan plak yang memacu penebalan dinding pembuluh darah. Penelitian menunjukkan, orang dengan penyakit gigi mempunyai risiko dua kali lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner.

Endokarditis

Bakteri yang ditemukan pada plak gigi merupakan salah satu faktor penyebab endokarditis. Bakteri di lubang gigi maupun gusi yang rusak dapat masuk ke dalam sirkulasi darah lewat gusi yang berdarah.Bakteri ini dengan mudah menyerap katup jantung maupun otot jantung yang telah melemah. Gejalanya berupa demam, bising jantung, perdarahan di bawah kulit, bahkan embolisasi (penyumbatan) pembuluh darah kecil di organ-organ tubuh lainnya.

Meskipun jarang, penyakit ini dapat berakibat fatal dan kadang kala memerlukan operasi katup jantung darurat.Selain itu juga sangat dianjurkan pemberian antibiotika sebagaiprofilaksi pada orang yang menderita prolaps, katup jantung, penyakit jantung rematik dan kelainan jantung bawaaan sebelum mendapatkan tindakan pengobatan gigi.

Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati perlu perawatan gigi yang baik dan pemeriksaan gigi secara berkala. Cara pencegahan terbentuknya karang gigi cukup sederhana, yaitu dengan rajin dan teliti membersihkan gigi secara baik dan benar. Penggosokan pada lidah selama 30 detik juga terbukti mengurangi jumlah bakteri dalam mulut.

Brosur cara menyikat gigi yang baik dan benar dapat diperoleh dengan mudah di setiap tempat praktek dokter gigi. Pemakaian dental floss (benang gigi) juga amat penting untuk membersihakan daerah-daerah sulit terjangkau oleh sikat gigi, terutama daerah antargigi dan juga pada gigi-gigi yang berjejal.

Sumber Harian Suara pembaruan

Yanto Sandy Tjang, Dokter Bedah jantung di pusat Jantung Bad Oeynhausen, Jerman

Calon Mama, Ayo Periksa Gigi

Satu anak, satu gigi, itu adalah pameo yang mungkin sering Anda dengar selama masa kehamilan.

Pameo diatas punya arti : setiap kehamilan akan menyebabkan tanggalnya satu gigi. Mungkin gara-gara pameo itu, banyak orang jadi menganggap masalah gigi dan mulut selama masa kehamilan wajar saja terjadi. Padahal sebaliknya, menjaga kesehatan gigi dan mulut justru sangat penting dilakukan di saat hamil.

Mengapa Penting?

Saat hamil, seorang wanita mengalami perubahan pola kerja tubuh yang mempengaruhi sistem hormonal dan kerja jantung serta aliran darah di dalam tubuhnya. Selain itu, masa ini juga disertai dengan perubahan mood atau kebiasaan baru seperti rasa mual, meningkatnya nafsu makan atau kebiasaan yang mengakibatkan kecenderungan untuk mengabaikan kebersihan gigi dan mulut sehingga penyakit gigi dan mulut pun dapat terjadi.

Ada dua alasan mengapa kebersihan gigi dan mulut sangat penting untuk diperhatikan selama masa penantian kelahiran bayi ini.

Pertama, ibu hamil memerlukan pemeliharaan yang ekstrem terhadap giginya sendiri selama masa kehamilan. Kedua, di masa ini gigi janin sedang dibentuk dan tumbuh kembang.

Secara awam, masalah gigi yang akrab di kalangan wanita hamil adalah masalah gigi berlubang. Namun masalah lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah kesehatan gusi, seperti gusi berdarah (radang gusi atau gingivitis).

Ini terbukti pada suat penelitian pada sekelompok wanita hamil di Bekasi. Sebanyak 50% responden mengalami perdarahan gusi selama masa kehamilan. Survey Kesehatan Rumah Tangga dari DepKes RI pun menyatakan bahwa 87,84% penduduk Indonesia menderita pendarahan gusi, dan salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah ini adalah kelompok ibu hamil.

Dr. Offenbacher dalam tulisannya Maternal Periodontitis and Prematurity mengatakan, masalah ini dapat mendorong terjadinya kelahiran bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Drg. Lies Zubardiah Sp. Perio, seorang ahli dalam Periodontologi juga pernah menulis dalam salah satu makalahnya kalau hal itu bahkan dapat menjadi salah satu faktor penyebab rentannya daya tahan tubuh bayi terhadap penyakit.

Penyakit Akibat Perilaku

Di masa kehamilan memang terjadi perubahan fisiologis yang sering disertai dengan perubahan perilaku yang tidak biasa pada ibu hamil. Perubahan-perubahan yang ditemukan dari trimester pertama itu antara lain:

1. Rasa lelah atau malas disertai dengan muntah-muntah dan mual.

Gejala ini menyebabkan wanita hamil malas menjaga kebersihan mulut. Selain itu rasa mudah mual hingga muntah juga dapat menimbulkan masalah ketika gigi anda diperiksa.

2. Nafsu makan yang meningkat. Wanita hamil sering menghendaki makanan yang lain dari biasa atau ngidam. Ini sering menjadi penyebab diet makanan yang tidak seimbang, ditambah dengan konsumsi makanan yang manis-manis dan asam, sehingga berat badan naik dan mengganggu kesehatan gigi dan mulutnya.

3. Rasa takut. Sebagian wanita hamil merasa takut berobat ke dokter gigi, sementara setelah melahirkan, kesibukan mereka otomatis meningkat dengan datangnya bayi, sehingga kunjungan ke dokter gigi makin tidak memungkinkan. Hal ini hanya memperpanjang waktu pengabaian diet yang tidak seimbang, akibatnya terjadi peningkatan konsumsi karbohidrat berfermentasi selama kehamilan.

Hal-hal di atas dapat mengakibatkan penyakit periodontal/gusi pada wanita hamil. Bahkan menurut Dr. Klaus H. Rateitschack, seorang pakar dalam ilmu Priodontologi dari Dental Institute, University of Basie Swiss, penyakit periodontal juga dapat terjadi pada wanita hamil, bahkan dengan keadaan kebersihan mulut yang cukup baik. Beliau berpendapat begitu karena penyakit ini adalah penyakit yang juga dipicu oleh gangguan keseimbangan hormonal pada masa kehamilan.

Bahaya pada gusi

Selama kehamilan, terjadi peningkatan hormon estrogen dan progesteron yang mengakibatkan perubahan dinding pembuluh darah gusi. Akibatnya, gusi jadi lebih mudah ditembus kuman. Keadaan ini membuat perubahan respon gusi secara berlebihan, menjadi lebih mudah dilalui plak, khususnya bila gigi dalam kondisi berkarang, berlubang, berjejal, ada gigi tiruan, ada tambalan kasar, dan ada sisa makanan ataupun sisa akar gigi.

Selain itu, pada masa kehamilan juga terjadi peningkatan pH cairan gusi sehingga menimbulkan suasana basa di dlam kantung gusi. Cairan gusi ini adalah sumber nutrisi bagi bakteri yang membantu mempercepat pertumbuhan bakteri di dalam kantung gusi. Hal ini memperberat proses peradangan gusi pada wanita hamil. Sehingga kondisi gigi dan mulut ibu hamil seringkali ditandai dengan adanya pembesaran gusi yang lunak dan mudah berdarah, gusi di daerah sela-sela gigi menjadi memerah, membengkak dan disertai dengan rasa sakit. Kondisi ini dikenal dengan nama pregnancy gingivitis.

Kelainan ini terjadi pada 30%-100% wanita hamil dan dimulai dari bulan kedua dan mencapai puncaknya pada bulan kedelapan kehamilan.

Pembengkakan gusi dimulai dari bagian gigi depan kemudian berlanjut ke bagian gigi belakang. Namun pada trimester ketiga, pembengkakan berkurang dan setelah melahirkan penyakit ini menghilang.

Risiko pada ibu dan bayi di dalam kandungan

Selama masa kehamilan, rongga mulut menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri untuk berkembang-biak. Dalam keadaan seperti inilah akan terjadi perubahan kuman-kuman dalam mulut, yang kemudian akan mempengaruhi kondisi kesehatan seperti berikut:

1.Karies (kerusakan gigi).

Proses karies pada gigi ibu hamil disebabkan oleh faktor lokal setempat, seperti keadaan pregnancy gingivitis dan terbentuknya kantong (pocket formation) di gusi. Sehingga sisa makanan dan plak akan mudah melekat di sana dan akhirnya berfermentasi selama kehamilan. Hal ini didukung dengan kebersihan mulut yang tidak dijaga selama kehamilan serta konsumsi makanan manis/asam yang tidak terkendali akibat tak adanya kontrol plak dan kunjungan ke dokter gigi yang rutin.

2. Pregnancy Tumor, merupakan kelanjutan dari pregnancy gingivitis yang tidak dirawat ke dokter gigi. Kelainan ini dapat membesar dan menjadi luka yang bernanah. Kelainan ini bisa hilang setelah melahirkan, tetapi pada beberapa kasus dapat menjadi keras dan menetap.

3. Berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

Dr. Offenbacher menambahkan bahwa wanita hamil yang punya banyak karang gigi dan pregnancy gingivitis, bila melakukan tindakan yang dapat membuat gusi berdarah seperti menggosok gigi, maka bakteri-bakteri yang berupa toksin dapat masuk ke saluran genital melalui pembuluh darah dan terjadilah infeksi bakteri. Infeksi ini dapat menimbulkan peradangan di dalam saluran rahim. Zat yang dihasilkan, yaitu yang berupa liposakarida akan menyebar ke dalam rongga rahim. Bakteri-bakteri akan berinteraksi pada membran plasenta, yang kemudian menimbulkan kontraksi otot rahim dan pelebaran leher rahim, sehingga bakteri yang masuk lebih banyak dan akan terus berlanjut. Adanya intervensi bakteri selama kehamilan dapat menimbulkan gangguan dalam pematangan leher rahim, pengaturan kontraksi rahim dan pengiriman nutrisi ke janin serta hormon yang mengatur kehamilan. Hal ini memungkinkan robeknya membran plasenta sebelum waktunya. Akibatnya? Bayipun lahir prematur dan berat badannya saat lahir sangat rendah.

Pencegahan penyakit gigi dan mulut selama hamil

Untuk mengurangi terjadinya faktor risiko dari penyakit ini, usaha perawatan kesehatan gigi dan mulut sangatlah anda perlukan.

Apa saja yang harus anda perhatikan? Sebagai berikut :

1.Pencegahan Utama

Usaha ini adalah cara pencegahan penyakit gigi dan mulut yang dapat anda lakukan di rumah :

Menggosok gigi dan gunakan benang gigi (dental floss) setelah makan dan sebelum tidur, dilanjutkan dengan berkumur dengan larutan antiseptik untuk mengurangi pembengkakan gusi.

Menurut Dr. J.O Forrest, plak gigi hanya dapat disingkirkan jika anda menyikat gigi secara efektif. Lamanya waktu sikat gigi dan usia sikat gigi sangat berpengaruh disini. Namun, plak gigi juga dapat terbentuk lagi dlam waktu 1 sampai 3 menit sesudah menyikat gigi. Maka untuk menghambat pembentukan plak kembali, penggunaan obat kumur antiseptik setelah menyikat gigi bisa dipercaya untuk mengurangi plak secara kimiawi. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian terhadap sekelompok ibu hamil di Bekasi, yang membuktikan bahwa kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut yang paling baik ditemukan pada responden yang menyikat giginya sesuai anjuran tersebut.

Berkumur dengan air setelah muntah. Hal ini perlu dilakukan karena asam dari muntahan dapat mengurangi kadar kekerasan email dan hal itu merusak gigi.

Anda harus kontrol ke dokter gigi minimal satu kali selama masa kehamilan. Masa paling baik melakukannya adalah setelah trimester 1, agar faktor penyebab penyakit gigi dan mulut dapat di deteksi lebih awal dan dapat dihilangkan sedini mungkin.

Banyak-banyaklah mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin A, C dan D yang diperlukan untuk memelihara kesehatan gigi dan gusi.

Kurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung gula dan karbohidrat

Ganti sikat gigi dengan yang baru setiap 3 bulan untuk menghindari iritasi jaringan lunak mulut seperti gusi, yang dapat mengakibatkan infeksi bakteri.

2. Pencegahan Komplikasi.

Pencegahan ini bertujuan untuk meminimalkan komplikasi dari penyakit yang terjadi dan mengembalikan fungsi dari bagian yang hilang oleh dokter gigi. Dalam masa kehamilan, pencegahan ini dilakukan dalam 4 tahap, yaitu :

Perawatan Jaringan Lunak.

Pada tahap ini yang dilakukan adalah menghilangkan semua jenis iritasi lokal penyebab gingivitis seperti plak, karang gigi, terselipnya makanan dan memperbaiki tambalan gigi atau gigi palsu yang rusak.

Perawatan fungsional rongga mulut.

Pada tahap ini dilakukan perbaikan fungsi gigi dan mulut, misalnya saja penambalan gigi yang berlubang atau pembuatan geligi tiruan bila memang diperlukan.

Perawatan kesehatan umum.

Di tahap ini anda harus memperhatikan kesehatan selama kehamilan secara menyeluruh. Ini penting anda ketahui karena sangat menentukan perawatan gigi lain yang dilakukan.

Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.

Ini dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit gigi dan mulut dengan pemeliharaan kebersihan mulut di rumah dan dengan melakukan dental check up secara berkala.

Majalah Mother&Baby, edisi januari 2007.