Beberapa bakteri rongga mulut berhubungan dengan kanker pankreas?

Dikutip dari majalah Medical Update, diulas oleh drg. Ricke Santoso.

Bakteri rongga mulut tertentu yang diantaranya dapat menyebabkan periodontitis, dihubungkan dengan perkembangan kanker pankreas.

Hasil studi yang baru baru ini membuka kemungkinan dihambatnya pathogenesis kanker pankreas, di mana kanker ini paling sulit diobati, yaitu dengan memengaruhi keseimbangan bakteri.

Para peneliti menyatakan bahwa kanker pankreas umumnya menyebar dengan sangat cepat, dan hanya sekitar satu diantara 20 pasien yang masih bertahan hidup 5 tahun setelah seseorang didiagnosis menderita kanker tersebut.

Dr. Jmaes J Farrell dkk. Dari UCLA David Geffen School of Medicine, Division of Digestive Diseases, Los Angeles, California, Amerika Serikat, mendasarkan penelitian mereka pada pembandingan awal dari bakteri – bakteri  yang ditemukan dalam cairan saliva 10 penderita kanker pankreas yang tidak mengalami penyebaran, dibanding 10 subyek sehat yang sesuai usia dan jenis kelaminnya.

Studi ini dibagi menjadi 3 fase yaitu : (1) pembuatan profil mikroba menggunakan ‘ Human Oral Microbe Identification Microarray’ untuk meneliti variasi mikroba saliva di antara 10 pasien kanker pancreas dengan 10 subyek kontrol; (2) identifikasi dan verifikasi calon bakteri dengan qPCR ( real-time quantitative PCR ); dan (3 ) validasi calon bakteri dengan qPCR terhadap kohort independen pada sampel 28 pasien kanker pancreas, 28 subyek kontrol sesuai, dan 27 kasus pancreatitis kronik.

Perbandingan  komprehensif mikroba saliva antara pasien kanker pankreas dengan subyek control sehat menemukan adanya variasi di mikroflora saliva. Sebanyak 31 spesies / kluster bakteri meningkat dalam saliva pasien kanker pancreas (n = 10) disbanding subyek control ( n = 10 ), sedangkan 25 spesies / kluster bakteri mengalami penurunan. Dua dari 6 calon bakteri ( Neisseria elongate dan Streptococcus mitis ) divalidasi menggunakan sampel independen, yang menunjukkan variasi bermakna (p < 0,05; qPCR )diantara sampel pankreastitis kronik dengan control ( n= 55 ). Kombinasi  2 penanda bakteri  ( N. elongate dan S. mitis ) menghasilkan nilai area dibawah kurva sebesar 0,90 (( 95% Cl 0,78 – 0,96; p < 0,0001 ), dengan sensitivitas 96,4% dan spesifisitas 82,1 % pada pasien kanker pancreas disbanding subyek control.

Jadi, pada saat para peneliti memeriksa sampel 28 pasien dengan inflamasi pancreas kronik, ternyata ditemukan adanya peningkatan risiko timbulnya kanker pancreas.  Di antara  6 spesies yang diduga, dua spesies  yaitu Neisseria elongata dan Streptococcus mitis secara bermakna lebih jarang ditemukan  pada rongga  mulut pasien kanker dibanding kelompok subyek control, sedangkan jumlah spesies lainnya yaitu  Granulicatella adjacens secara bermakna lebih tinggi.

Kombinasi antara N. Elongata dan S. mitis secara akurat  membedakan subyek sehat dengan  pasien yang menderita kanker pada lebih dari 80% kasus. Selain itu, para peneliti menemukan perbedaan serupa dengan prevalensi  S. mitis dan G. adjacens antara sampel pancreatitis  kronik dengan  saliva kelompok subyek sehat.

Masih belum jelas apakah adanya jenis bakteri tertentu merupakan  penyebab atau akibat dari kanker pancreas. Meskipun demikian , para peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mendukung studi –studi sebelumnya  yang menunjukkan bahwa bakteri berhubungan dengan perkembangan penyakit pancreas.

Para peneliti menduga bahwa jumlah bakteri tertentu dapat digunakan sebagai upaya untuk melakukan skrining  yang bersifat  non – invasif dan dapat dipercaya terhadap kanker pancreas, dengan harapan dapat dilakukan  deteksi secara dini pada penyakit yang  gejalanya tidak jelas  ketika stadiumnya masih dini.

James J Farrell, Lei Zhang, Hui Zhou, David Chia, David Elashoff, David Akin, Bruce J Paster, Kaumudi Joshipura, David TW Wong. Variatons of oral microbiota are associated with pancreatic diseases including pancreatic cancer. Gut, 2011; DOI : 10.1136/gutjnl-2011-300784.

Dikutip dari majalah Medical Update.

Oleh sebab itu sangat disarankan agar kita lebih memperhatikan kesehatan gigi dan gusi untuk menghindari berkembangnya bakteri yang tidak diinginkan. Hal ini dapat dicapai dengan cara rajin menyikat gigi minimal 2 kali per hari, rajin kontrol ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Jika terdapat ketidaknyamanan pada gigi maupun gusi, segeralah ke dokter gigi agar dapat segera ditangani.