PENTINGNYA PEMBUATAN CROWN SETELAH PERAWATAN SALURAN AKAR

by drg. Ricke Santoso, SpKG

Perawatan saluran akar/ endodontik biasanya memerlukan beberapa kali kunjungan. Namun setelah perawatan tersebut selesai, terkadang kita menunda restorasi yang berupa crown. Biasanya karena mempertimbangkan harganya yang lebih mahal daripada sekedar tambalan biasa. Sebenarnya apa resiko yang mungkin terjadi bila tidak dilakukan restorasi crown? Salah satu resiko yang paling sering dialami pasien adalah giginya pecah secara tiba-tiba atau setelah menggigit sesuatu yang keras. Saat datang kembali, pasien mengeluh : “Dok, tambalan saya pecah dan terasa sakit”. Saat diperiksa ternyata bukan tambalannya saja yang pecah, melainkan gignya juga ikut pecah. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena gigi yang telah dirawat saluran akarnya biasanya hanya tersisa dinding yang sudah tipis akibat bolong yang sudah besar ditambah dengan pembuatan akses untuk dllakukan perawatan saluran akar. Berikut adalah gambar gigi yang berlubang dan dirawat saluran akar.

foto-1foto-2


Terlihat bahwa dinding mahkota gigi sudah tipis. Jika terkena tekanan kunyah berlebih dan terus-menerus (terutama gigi belakang), bukanlah hal yang tidak mungkin kalau gigi beserta tambalannya tiba-tiba saja pecah. Kalau sudah pecah jadi sia-sia deh perawatan yang sudah dijalani, karena dengan terpaksa gigi tersebut harus dicabut jika patahnya sudah dalam. Seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

foto-3

foto-4

Crown disini berfungsi untuk melindungi gigi karena terbuat dari bahan yang kuat menahan tekanan kunyah, contohnya terbuat dari logam, logam+porselen, dan all porselen. Crown dibuat menyelimuti gigi sehingga tekanan kunyah jatuhnya lebih merata, oleh sebab itu gigi terhindar dari resiko pecah/ patah. Selain itu juga dapat memperbaiki bentuk gigi ke keadaan semula dan mengembalikan fungsinya. Jadi gigi yang sudah dilakukan perawatan saluran akar sebaiknya cepat dilakukan restorasi berupa crown.

foto-5

foto-6

foto-7

foto-8

foto-9