MITOS VS FAKTA SEPUTAR GIGI DAN MULUT

drg. Marcia Risdi

Mitos vs Fakta 1
Mitos : Gigi atas yang sakit jika dicabut akan mempengaruhi syaraf mata. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan.
Fakta : Syaraf yang mempersyarafi gigi geligi atas berbeda dengan syaraf mata. Bila seseorang sakit gigi karena karies (lubang gigi) pada gigi atas, penjalaran infeksinya memang dapat mencapai pipi hingga mata. Namun pencabutan gigi atas tidak akan menyebabkan kebutaan.

Mitos vs Fakta 2
Mitos : Sakit gigi dapat disembuhkan cukup dengan minum obat penghilang rasa sakit (analgesik).
Fakta : Obat “pain killer” hanya membantu untuk menghilangkan rasa sakit sementara, namun infeksi bakteri pada gigi tetap ada dan suatu waktu rasa sakit akan timbul lagi. Maka jika terjadi karies, gigi tersebut harus dirawat. Bila karies belum mencapai jaringan syaraf, gigi masih bisa ditambal. Namun bila jaringan syaraf sudah terekspos, maka gigi sudah tidak bisa langsung ditambal tapi harus dilakukan perawatan saluran akar terlebih dulu.

Mitos vs Fakta  3
Mitos : Gigi tidak perlu dicabut dan boleh dibiarkan saja bila yang tersisa tinggal akarnya saja. Toh, sudah tidak ada keluhan yang dirasakan.
Fakta : Bila gigi berlubang dibiarkan dan tidak dirawat, lama kelamaan gigi tersebut dapat patah sedikit demi sedikit karena adanya tekanan kunyah. Pada akhirnya, mahkota gigi habis dan yang tersisa tinggal akarnya saja. Biasanya pada gigi tersebut sudah tidak ada keluhan lagi. Namun bukan berati masalah sudah selesai. Akar gigi yang terekspos dengan lingkungan gigi tetap dapat menjadi sumber infeksi. oleh karena itu, biarpun sudah tidak terasa sakit gigi tersebut tetap harus dicabut dan dibuatkan gigi tiruan penggantinya.

Mitos vs Fakta  4
Mitos : Anak yang punya kebiasaan menghisap jari giginya bisa maju atau tonggos.
Fakta : Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kebiasaan thumb sucking pada anak dapat menyebabkan gigi depannya tonggos, tapi bergantung pada beberapa hal. Misalnya, sampai berapa lama anak tersebut terbiasa menghisap jari. Seberapa sering ia menghisap jari dalam sehari dan besarnya tekanan hisap si anak juga dapat mempengaruhi derajat keparahan. Kebiasaan menghisap jari yang bertahan antara 36 dan 48 bulan dapat meningkatkan resiko majunya gigi depan secara signifikan.

Mitos vs Fakta  5
Mitos : Bila seseorang sakit gigi lebih baik dicabut daripada ditambal, karena setelah ditambal pun masih bisa sakit lagi.
Fakta : Pencabutan gigi adalah alternatif terakhir, bila perawatan lain sudah tidak mungkin dilakukan. Gigi sebisa mungkin dipertahankan dalam mulut, karena kehilangan satu gigi saja sudah dapat mengurangi efektivitas dalam pengunyahan. Gigi yang hilang sebaiknya diganti dengan gigi tiruan, namun sebaik apapun gigi tiruan masih lebih baik gigi aslinya. Saat ini ilmu dan teknologi di bidang kedokteran gigi telah berkembang pesat. Material kedokteran gigi terus menerus diperbaiki, sehingga hasil tambalan yang baik dan tahan lama dapat dicapai.

Mitos vs Fakta 6
Mitos : Bau mulut disebabkan karena adanya masalah di pencernaan.
Fakta : Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa 85 % bau mulut berasal dari gigi dan mulut. Bau mulut yang disebabkan oleh perut sangat jarang terjadi. Bau mulut disebabkan oleh bakteri yang bersarang di dalam mulut, bisa berada di gusi yang meradang, gigi yang berlubang, karang gigi, tambalan yang bocor, dan terutama di bagian belakang lidah. Bakteri yang berkembang dalam lingkungan tanpa oksigen ini memproduksi gas berbau yang disebut ‘volatile sulfur compound’. Inilah yang menyebabkan bau mulut.

Mitos vs Fakta  7
Mitos : Obat kumur dapat menghilangkan bau mulut.
Fakta : Menurut suatu penelitian yang menguji keefektifan obat kumur yang mengandung essential oil, jumlah bakteri berkurang secara bermakna 12 jam setelah penggunaan. Namun obat kumur hanya efektif dalam jangka waktu yang pendek. Malahan, pemilihan obat kumur harus dilakukan secara hati-hati, karena obat kumur berbahan dasar alkohol justru dapat memperberat bau mulut bila digunakan secara berlebihan, karena kandungan alkohol dapat membuat mulut menjadi kering. Untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi bau mulut, pembersihan gigi tidak difokuskan ke permukaan gigi saja melainkan ke seluruh permukaan yang ada di dalam rongga mulut. Terutama jaringan lunak seperti lidah dan gusi.

Mitos vs Fakta  8
Mitos : Pencabutan gigi tidak boleh dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi.
Fakta : Perubahan hormonal yang dialami wanita turut mempengaruhi keadaan di rongga mulutnya. Saat menstruasi, terjadi perubahan hormonal yaitu peningkatan kadar estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan gusi lebih rentan terhadap peradangan. Meski demikian, pencabutan tetap dapat dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi. Untuk menghindari resiko, pencabutan sebaiknya ditunda hingga minggu terakhir siklus menstruasi (hari ke 22-28) di mana kadar estrogen sedang rendah.

Mitos vs Fakta  9
Mitos : Bila gigi anak berlubang tidak perlu ditambal karena nanti juga akan digantikan oleh gigi tetap/permanen.
Fakta : Gigi anak yang berlubang tetap harus ditambal, karena gigi yang berlubang dan tidak dirawat dapat menyebabkan infeksi menjalar ke jaringan pendukung gigi. Hal ini akan mempengaruhi gigi permanennya yang sedang dalam tahap tumbuh kembang. Selain itu adanya karies pada gigi anak dapat menyebabkan anak berkurang nafsu makan dan cenderung rewel.

Mitos vs Fakta 10
Mitos : Sariawan disebabkan oleh kekurangan vitamin C.
Fakta : Sariawan dalam dunia medis disebut dengan aphtous stomatitis. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun ada banyak faktor yang diyakini berkaitan dalam memicu terjadinya sariawan. Di antaranya adalah menurunnya sistem imun (kekebalan tubuh), stress, trauma pada jaringan lunak dalam rongga mulut (seperti tergigit yang berulang-ulang), kurang nutrisi, atau disebabkan karena obat-obatan tertentu. Bila sariawan terjadi berulang-ulang dan hilang timbul, maka disebut recurrent aphtous stomatitis (RAS)

( sumber: klikdokter.com )

OVERBRUSHING, overdo a good thing….

drg. Marsellina Soenarto


“Dok, kog gusi saya ngilu sekali saat  menggosok gigi ya?” “Saat konsumsi minuman dingin ataupun makan sesuatu yang manis dan asam, kog gusi saya terasa tidak nyaman ya?” Mungkin saja anda mengalami overbrushing, yang terkadang tidak anda sadari…..

Apa itu overbrushing?
Overbrushing adalah istilah umum yang digunakan untuk “toothbrush abrasion,” atau kebiasaan menggosok gigi dengan tekanan yang berlebih, hingga dapat menyebabkan penurunan gusi. Kesalahan cara menggosok gigi dan pemilihan sikat gigi yang tidak tepat dapat pula memperburuk kondisi gigi dan gusi.
Akibatnya, lama kelamaan akar gigi akan terbuka (resesi gingiva), leher gigi berlubang, lapisan email pun akan terkikis sehingga akan terasa ngilu saat mengkonsumsi minuman dingin, manis/asam, atau bahkan saat tersentuh bulu sikat gigi.

Bagaimana cara mencegahnya?
Tips untuk mencegah overbrushing;
–    Mengurangi tekanan berlebih saat menggosok gigi
–    Menggunakan sikat gigi dengan jenis bulu sikat yang soft dan cara menggosok gigi yang benar.
–    Rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi (sekurang-kurangnya 6 bln sekali)
Dapatkah gigi saya diperbaiki?
    Pada kasus ringan, di mana belum terjadi lubang pada leher gigi, segera pensiun kan sikat gigi berbulu keras anda dan gantilah dengan sikat gigi berbulu soft, dan gunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitive.
Pasta gigi khusus untuk gigi sensitive biasanya mengandung pottasium nitrate atau stronsium cloride, yang mampu membantu mengurangi rasa ngilu yang anda alami.

    Pada keadaan dentin/akar gigi yang terbuka/ cekungan pada leher gigi, sebaiknya dilakukan penambalan (filling). Penambalan gigi yang dilakukan, disesuaikan dengan derajat keparahan masing masing kasus.

    Bila dentin yang terbuka sudah mengenai jaringan pulpa, di mana terdapat saraf gigi di dalamnya, kemungkinan harus dilakukan perawatan saluran akar (root canal treatment).

Untuk informasi dan perawatan gigi anda, hubungi Dentia Dental Care Center, Klinik Perawatan Gigi Keluarga anda.

CEGAH KERUSAKAN GIGI

drg. Nuniek Setyaningsih.

Data menunjukkan, 9 dari 10 anak balita menderita kerusakan gigi; dan setiap anak menderita 7 lubang dari 20 giginya. Padahal, kerusakan gigi susu akan mempengaruhi pertumbuhan gigi permanennya. Umumnya, masalah gigi yang muncul pada anak adalah gigi berlubang, yang bisa terjadi sejak giginya masih berupa gigi susu sampai tumbuh gigi tetap. Gigi keropos atau berlubang berawal dari adanya kotoran yang melekat erat pada gigi dan ditumbuhi kuman, atau sering diistilahkan sebagai plak. Kerusakan gigi dimulai pada permukaan luar gigi yang disebut email, lalu menjalar  ke lapisan dalam yaitu dentin. Pada saat itu gigi akan terasa liinu, terutama bila makan makanan yang manis dan minum minuman yang dingin. Selanjutnya, lubang akan terus menjalar ke saraf gigi hingga menimbulkan rasa sakit. Lama-kelamaan gigi menjadi mati dan busuk serta terjadi pembengkakan. Akibatnya, fungsi pengunyahan terganggu dan nafsu makan anak pun jadi berkurang yang nantinya akan mengganggu tumbuh kembang anak.

KENALI FAKTOR PENYEBABNYA

Nah, untuk mencegah terjadinya gigi keropos/berlubang, kita perlu tahu apa saja factor penyebabnya.

  • Faktor giginya sendiri

Gigi anak seharusnya sudah disiapkan sejak awal kehamilan, yakni dengan si ibu mengonsumsi makanan bergizi. Jika sewaktu hamil, gizinya kurang baik, bisa mengakibatkan anaknya kelak memiliki gigi-geligi yang tak kuat strukturnya. Asal tahu saja, gigi susu sebenarnyasudah terbentuk sejak ia masih di kandungan. Bahkan, gigi permanen pun sudah terbentuk. Pada trimester pertama, gigi-gigi ini sudah ada. Hanya saja munculnya nanti setelah anak berusia 5-6 tahun. Tak pelak lagi, faktor gizi ibu hamil turut mempengaruhi pertumbuhan gigi. Penting untuk pembentukan gigi. Kedua zat ini banyak ditemukan pada susu. Sedangkan flour diperlukan untuk penguat gigi. Begitu juga vitamin C dan D. ada baiknya ibu hamil diberikan flour secara khusus. Begitu juga setelah bayi lahir. Tentu dengan dosis yang tepat. Flour akan mencegah munculnya kerusakan gigi. Kecuali itu, ibu hamil pun jangan sembarangan menelan obat-obatan. Obat semacam tetrasiklin, misalnya, mengakibatkan kerusakan warna gigi dan melemahkan gigi.

  • Faktor lingkungan

Salah satunya adalah pemberian makan pada anak. Misalnya, setelah anak makan atau minum susu tak langsung dibersihkan. Jenis makanan yang diberikan pada anak juga yang manis dan lengket. Padahal, dengan kebersihan gigi yang jelek dan jenis makanan yang manis serta lengket justru membuat gigi keropos karena bakteri di gigi akan tumbuh subur. Bakteri yang hidup karena adanya gula dan tepung, bisa menimbulkan kerusakan gigi. Pasalnya, bakteri ini memproduksi asam yang akan merusak lapisan pelindung gigi. Bakteri tak akan berhenti sampai lapisan gigi, tapi akan terus menembus bagian yang lunak dari gigi. Bakteri ini dapat hidup sekalipun tak ada udara di dalamnya, selama waktu tak lebih dari sehari, gula dan tepung yang tersisa pada gigi inibisa mengakibatkan lubang pada gigi. Mustahil seorang ibu bisa tega melarang anaknya sama sekali tak mengonsumsi jenis makanan manis, seperti gula, permen, sirop dan coklat. Lantaran itulah, mengendalikan anak dalam mengonsumsi jenis makanan adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan. Selain juga, membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan, membiasakan anak minum air putih atau berkumur-kumur setelah mengonsumsi makanan tersebut.

  • Faktor waktu

Sebenarnya tak apa-apa bila sisa makanan tak dibersihkan dalam waktu sebentar. Tapi kalau lama, sisa makanan itu akan bertumpuk sehingga akhirnya terjadi iritasi ke gigi maupun gusi dan membuat keropos. Sebab, sisa makanan dalam mulut akan diubah menjadi asam. Nah, asam inilah yang akan mengiritasi gigi dari email. Dentin, saraf gigi, sampai ke akar gigi. Akibatnya, terjadi infeksi dan membengkak. Gusi yang bengkak juga akan membuat tulang rahang sakit.

  • Kebiasaan makan es batu

Jangan remehkan kebiasaan si balita yang suka makanes batu. Es batu bisa menyebabkan temperature suhu di rongga mulut menurun secara mendadak. Akibatnya, seluruh jaringan gigi akan rusak, misal, email gigi menipis. Padahal kita tahu, email adalah lapisan pelindung gigi. Jika email gigi menipis atau rusak, maka gigi tersebut mudah berlubang. Nah, bila si kecil sering mengeluh ngilu pada giginya, itu pertanda email giginya sudah menipis atau malah sudah “pergi” dari tempatnya. Selain itu, bila si kecil makan es batunya dikunyah atau digigit-gigit, bisa menyebabkan giginya cepat aus atau susut karena tergesek-gesek. Lebih parah lagi, giginya bisa patah, lo. Memang, sih, gigi tersebut akhirnya tanggal dan digantkan gigi baru yang sempurna. Namun sensitivitas gigi jadi berkurang hingga lama kelamaan bias berlubang juga. Orang tua harus dapat mengalihkan perhatian anak agar tak memakan es batu lagi. Misal, menggantinya dengan buah-buahan, yang bukan hanya tak merusak gigi, juga baik untuk kesehatan badan. Anak pun perlu diberi penjelasan secara bijak dan arif akan dampak yang ditimbulkan dari kebiasaannya makan es batu. Misal, “kalau Adek makan es batu, nanti gigi Adek akan sakit. Malah nanti gigi Adek bisa ompong. Kan, malu kalau enggak punya gigi.”

LAKUKAN PERAWATAN YANG TEPAT

Jadi, kendati gigi susu akan tanggal, ia tetap memerlukan perawatan yang benar. Ketahuilah, kerusakan pada gigi susu berjalan lebih cepat dibandingkan pada gigi tetap. Apalagi kerusakan itu mudah sekali menjadi karies yang ganas. Proses karies yang ganas akan cepat menjalar dari email ke dentin sampai pulpa. Perawatan sejak dini bias menghindarkan si kecil dari kerusakan gigi yang lebih parah. Misalnya, ke tulang di bawah gigi dank e rongga yang berisi pembuluh darah di bawah lapisan email gigi, yang dapat menimbulkan radang dan pembengkakan. Karena itulah, sejak dini, anak harus diajarkan menggosok giginya minimal dua kali sehari, sesudah sarapan dan menjelang tidur. Ajarkan pula untuk minum air putih seusai makan. Dianjurkan untuk memeriksakan gigi anak ke dokter setiap 6 bulan sekali, meskipun giginya tak bermasalah. Perawatan gigi yang tepat bukan hanya membuat gigi jadi sehat, tapi juga bagus. Gigi yang bagus akan membuat anak tampil menarik, lo. Rasa percaya dirinya pun jadi tambah mantap!    ( Sumber dari majalah anak nakita)

PENTINGNYA PERAWATAN SALURAN AKAR

Drg. Dwi Suryanti Kurniawan

senyum

Berikut adalah pembicaraan antara pasien dengan dokter gigi di ruang periksa,

Pasien : “Selamat sore, Dok…. Ini, saya mau tambal, gigi saya, bisa gak, Dok?”

Dokter : “oh… bisa, mari saya lihat dulu ya giginya.”

Pasien : “Ok, dok.”

Lalu dokter ini memeriksa gigi pasiennya dan menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien tersebut,

Dokter : “Sedang sakit tidak giginya sekarang?”

Pasien : “Gak, Dok, gak enak aja suka masuk makanan.”

Dokter : “Pernah sakit sebelumnya? Atau bengkak?”

Pasien : “O…pernah, Dok, tapi saya minumin obat penghilang rasa sakit, setelah minum obat itu, sakit dan bengkaknya hilang, Dok. Maklum kemarin-kemarin saya suka panas dalam kalau terlalu capai.”

Dokter : “Hmmm… karena lubangnya sudah terlalu dalam dan ada riwayat bengkak, sebaiknya gigi ini di rontgen dahulu untuk mengetahui lebih jelas penyakitnya, kalau lubangnya sudah mencapai saraf gigi, tidak bisa langsung ditambal, tetapi harus melalui proses perawatan saluran akar gigi.”

Pasien pun bingung apa maksud Dokter gigi ini dan menanyakan mengapa giginya perlu dilakukan perawatan tersebut

Seringkali kita mendengar teman, saudara, atau bahkan diri kita sendiri dianjurkan oleh Dokter gigi untuk merawat saluran akar gigi kita, padahal kita datang karena gigi kita lubang dan minta ditambal langsung oleh Dokter gigi. Lalu tindakan apakah sebenarnya perawatan saluran akar gigi itu? Perlukah perawatan saluran akar gigi walaupun gigi tidak sakit? Kapankah perlu dilakukan perawatan  saluran akar gigi? Pertanyaan-pertanyaan di atas barulah sebagian kecil dari berbagai pertanyaan pasien seputar tindakan perawatan saluran akar gigi.

Pada artikel ini, kami akan coba untuk menjelaskan APA, MENGAPA, dan BAGAIMANA  perawatan saluran akar gigi. (Root Canal Treatment)

modelgigi2

Gigi geligi manusia selain terdiri dari email, juga terdapat bagian-bagian lain, termasuk saraf gigi, yang akan kita bahas sekarang ini. Dengan adanya saraf gigi, gigi kita yang masih sehat akan bereaksi terhadap rangsang dari luar, seperti minum air dingin, makan terlalu panas, asam, atau manis, bahkan ketukan ringan pada gigi. Saraf gigi terletak di dalam saluran akar gigi kita.

Gigi yang sudah lubang mencapai saraf gigi biasanya terasa amat sakit, hal ini terjadi karena rangsang dari luar langsung mengekspos saraf gigi. Kuman-kuman yang masuk ke dalam lubang gigi pun menyebabkan peradangan dan infeksi pada ruang saraf dan mengiritasi saraf gigi yang berada di saluran akar gigi.

Racun-racun dari kuman yang masuk ke saraf gigi bisa menembus sampai ke jaringan tulang rahang dan menyebabkan infeksi  pada jaringan tulang. Infeksi  dalam jangka waktu yg panjang, dapat menyebabkan pembengkakan pada gusi atau bahkan sampai ke pipi disertai dengan rasa sakit yang hebat.

Diagnosa dapat lebih ditegakkan dengan adanya rontgen foto pada gigi yang diduga sarafnya terinfeksi kuman. Setelah diagnosa ditegakkan, maka perawatan saluran akar pun dilakukan.

Tujuan dari perawatan saluran gigi adalah untuk mengangkat seluruh jaringan saraf gigi  yang sudah busuk karena  terinfeksi  kuman, lalu menutup saluran akar yang sudah bersih dengan bahan khusus untuk menghindari terjadinya masalah di masa yang akan datang.

Proses perawatan saluran akar gigi ini terdiri dari 2 tahap umum, yaitu

1. Pembersihan saluran akar sampai tercipta saluran akar yang bebas kuman

2. Pengisian saluran akar dengan suatu bahan yang padat untuk menghindari masuknya kuman kembali.

Perawatan saraf ini membutuhkan ketekunan dan motivasi dari pasien, karena perawatan ini tidak selalu dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan, ada kalanya, perawatan ini membutuhkan 2,3, atau bahkan 4 kali kunjungan tergantung tingkat keparahan infeksi.

Setelah perawatan saluran akar yang baik, fungsi dan bentuk gigi tersebut harus dikembalikan secara optimal, yaitu dengan pemasangan pasak diikuti dengan pemasangan selongsong (jacket crown), atau bisa juga dengan tambalan cor (uplay/onlay).

Melalui  penjelasan di atas, bila gigi Anda dianjurkan untuk dirawat saluran akarnya, jangan ragu untuk melakukannya, karena dengan melakukan perawatan saluran akar gigi, berarti Anda sudah mempertahankan keberadaan gigi Anda dan mengembalikan fungsional dan kecantikan gigi Anda

Untuk informasi dan perawatan gigi anda, hubungi Dentia Dental Care Center, klinik perawatan gigi keluarga anda.