PENTINGNYA SENYUM YANG INDAH DAN SEHAT UNTUK KESEHATAN ANDA

by drg. Mery Cahyadi

Seringkali orang baru datang ke dokter gigi jika giginya terasa sakit atau secara estetika penampilan terganggu. Banyak orang berasumsi jika tidak ada rasa sakit berarti tidak ada masalah dengan kesehatan giginya. Padahal telah banyak penelitian yang meneliti hubungan antara kesehatan rongga mulut dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Contohnya : penyakit gusi telah dikaitkan dengan timbulnya penyakit jantung, diabetes dan stroke. Dan baru-baru ini peneliti dari New York University menemukan bukti-bukti ilmiah bahwa penyakit gusi meningkatkan resiko terjadinya penyakit kognitif Alzheimer’s.

 

Tanpa kita sadari, gigi berlubang yang tidak dirawat dapat menimbulkan infeksi kronis, dan menjadi ancaman fokal infeksi, yaitu infeksi kronis di suatu tempat dan memicu penyakit di tempat lain. Racun, sisa-sisa kotoran maupun mikroba penginfeksi bisa menyebar ke tempat lain di tubuh seperti ginjal, jantung, mata dan kulit. Oleh karena itu, jika masih dapat dipertahankan maka gigi yang terinfeksi tersebut harus segera dirawat dan jika kerusakan gigi terlalu besar sehingga tidak dapat dipertahankan maka sebaiknya dicabut.

Setelah gigi dicabut bukan berarti masalah selesai sampai di sana, akan tetapi sangat penting untuk segera diganti kehilangan gigi tersebut dengan gigi tiruan. Mengapa kehilangan gigi harus digantikan oleh gigi tiruan?

–          Gigi sebelahnya ataupun gigi lawannya (gigi antagonis ) dapat berubah posisi menjadi bergeser atau semakin turun.

–          Fungsi kunyah terganggu , yang dapat mengakibatkan terganggunya sistem pencernaan.

–          Gangguan pada sendi rahang, akibat kebiasaan mengunyah yang buruk setelah kehilangan gigi dan perubahan posisi gigi.

–          Beban berlebihan pada jaringan pendukung gigi- gigi yang masih ada, sehingga dapat mengakibatkan kegoyangan gigi.

–          Resorpsi tulang rahang.

–          Kelainan bicara.

–          Mengurangi estetika penampilan wajah, terutama bila terjadi kehilangan gigi depan.

 

Jenis- jenis gigi tiruan untuk menggantikan kehilangan gigi meliputi :

–          Gigi palsu lepasan (removable)

–          Crown & bridge ( gigi tiruan mahkota dan jembatan )

–          Implant gigi (Dental implant)

Senyum yang indah dan sehat tidak hanya menunjang penampilan anda tetapi juga sangat penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Mulailah rutin untuk memeriksakan gigi anda secara berkala.

 

 

 

Sudah Saatnyakah Mengganti Tambalan Lama Gigi Anda?

by drg. Trini Santi Pramudita

Seorang wanita berkonsultasi kepada dokter gigi, dan ia disarankan oleh dokter tersebut untuk mengganti tambalan giginya. Padahal wanita itu merasa bahwa giginya tidak sakit dan tambalannya masih baik. Wanita itu bertanya-tanya, mengapa ia perlu mengganti tambalan giginya?

Tambalan gigi memang tidak bertahan selamanya di dalam mulut. Perkiraan umur tambalan komposit (tambalan sewarna gigi) adalah lebih dari 10 tahun, seperti yang dikatakan Drake dkk. Namun, dalam buku “Change Your Smile” memberikan estimasi antara 5-8 tahun tergantung dengan jenis restorasi dan tingkat kooperatif pasien.

Jadi, bagaimana mengetahui sudah saatnya mengganti tambalan dengan yang baru? Banyak pasien menunggu sampai gigi sakit untuk mencari pengobatan. Sayangnya pada saat keadaan ini, akan diperlukan perawatan yang lebih kompleks seperti melibatkan perawatan saluran akar sebelum akhirnya gigi dapat direstorasi kembali.

Kerusakan pada tambalan dapat berupa celah yang sangat kecil. Pasien mungkin tidak mengetahui, terutama bila kerusakan itu belum menimbulkan keluhan rasa nyeri. Dengan adanya celah ini, partikel makanan dan bakteri penyebab pembusukan gigi dapat masuk dan terkumpul dibawah tambalan. Keadaan itu menimbulkan kerusakan atau karies gigi sekunder. Kerusakan yang tidak diketahui dan tidak ditangani bisa memicu infeksi pulpa gigi. Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Misalnya, kematian gigi dan timbulnya pembengkakan.

Untuk memperpanjang umur dari tambalan, juga tergantung dari pemeliharaan dirumah. Menyikat gigi dengan teratur akan mencegah penumpukkan sisa makanan dan plak yang menempel pada gigi dan merusak tambalan. Minum-minuman seperti kopi, teh, kola, juga dihindari karena dapat menodai daerah yang telah ditambal dengan komposit. Begitu pula dengan merokok, penggunaan tembakau juga harus dihindari karena selain dapat merubah warna gigi juga dapat mempengaruhi kesehatan rongga mulut. Perubahan warna pada resin komposit dapat terlihat pada gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

Umur tambalan juga dipengaruhi oleh kebiasaan pasien mengunyah, menggigit, grinding gigi, penggunaan sikat gigi yang keras, pasta gigi yang abrasif. Selain itu, atas alasan estetik terkadang penggantian tambalan lama yang berwarna kehitaman dapat diganti dengan sewarna gigi, dengan indikasi terbatas.

 

 

 

 

 

 

 

Jangan ragu untuk temui dokter gigi anda dua kali setahun untuk pemeriksaan dan pembersihan. Dengan pemeriksaan yang seksama dan dibantu rontgen foto gigi, dokter gigi dapat memberi informasi apabila terdapat kerusakan pada tambalan gigi anda. Tak hanya mengembalikan fungsional gigi, namun anda juga dapat memiliki senyum yang menarik. Untuk informasi dan perawatan gigi anda, hubungi Dentia Dental Care Center, klinik perawatan gigi keluarga anda.

 

Ref:

  1. Dale, Barry G.,  Kenneth Ascheim. Esthetic Dentistry : a Clinical Approach to Techniques and Materials. 2nd ed. 2001. Mosby : New York.
  2. Goldstein, Ronald E. Esthetics in Dentistry. 2nd ed. 1998. BC Decker Inc: Canada
  3. http://dailyclinic.blogspot.com/2012/04

 

MITOS VS FAKTA SEPUTAR GIGI DAN MULUT

drg. Marcia Risdi

Mitos vs Fakta 1
Mitos : Gigi atas yang sakit jika dicabut akan mempengaruhi syaraf mata. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan.
Fakta : Syaraf yang mempersyarafi gigi geligi atas berbeda dengan syaraf mata. Bila seseorang sakit gigi karena karies (lubang gigi) pada gigi atas, penjalaran infeksinya memang dapat mencapai pipi hingga mata. Namun pencabutan gigi atas tidak akan menyebabkan kebutaan.

Mitos vs Fakta 2
Mitos : Sakit gigi dapat disembuhkan cukup dengan minum obat penghilang rasa sakit (analgesik).
Fakta : Obat “pain killer” hanya membantu untuk menghilangkan rasa sakit sementara, namun infeksi bakteri pada gigi tetap ada dan suatu waktu rasa sakit akan timbul lagi. Maka jika terjadi karies, gigi tersebut harus dirawat. Bila karies belum mencapai jaringan syaraf, gigi masih bisa ditambal. Namun bila jaringan syaraf sudah terekspos, maka gigi sudah tidak bisa langsung ditambal tapi harus dilakukan perawatan saluran akar terlebih dulu.

Mitos vs Fakta  3
Mitos : Gigi tidak perlu dicabut dan boleh dibiarkan saja bila yang tersisa tinggal akarnya saja. Toh, sudah tidak ada keluhan yang dirasakan.
Fakta : Bila gigi berlubang dibiarkan dan tidak dirawat, lama kelamaan gigi tersebut dapat patah sedikit demi sedikit karena adanya tekanan kunyah. Pada akhirnya, mahkota gigi habis dan yang tersisa tinggal akarnya saja. Biasanya pada gigi tersebut sudah tidak ada keluhan lagi. Namun bukan berati masalah sudah selesai. Akar gigi yang terekspos dengan lingkungan gigi tetap dapat menjadi sumber infeksi. oleh karena itu, biarpun sudah tidak terasa sakit gigi tersebut tetap harus dicabut dan dibuatkan gigi tiruan penggantinya.

Mitos vs Fakta  4
Mitos : Anak yang punya kebiasaan menghisap jari giginya bisa maju atau tonggos.
Fakta : Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kebiasaan thumb sucking pada anak dapat menyebabkan gigi depannya tonggos, tapi bergantung pada beberapa hal. Misalnya, sampai berapa lama anak tersebut terbiasa menghisap jari. Seberapa sering ia menghisap jari dalam sehari dan besarnya tekanan hisap si anak juga dapat mempengaruhi derajat keparahan. Kebiasaan menghisap jari yang bertahan antara 36 dan 48 bulan dapat meningkatkan resiko majunya gigi depan secara signifikan.

Mitos vs Fakta  5
Mitos : Bila seseorang sakit gigi lebih baik dicabut daripada ditambal, karena setelah ditambal pun masih bisa sakit lagi.
Fakta : Pencabutan gigi adalah alternatif terakhir, bila perawatan lain sudah tidak mungkin dilakukan. Gigi sebisa mungkin dipertahankan dalam mulut, karena kehilangan satu gigi saja sudah dapat mengurangi efektivitas dalam pengunyahan. Gigi yang hilang sebaiknya diganti dengan gigi tiruan, namun sebaik apapun gigi tiruan masih lebih baik gigi aslinya. Saat ini ilmu dan teknologi di bidang kedokteran gigi telah berkembang pesat. Material kedokteran gigi terus menerus diperbaiki, sehingga hasil tambalan yang baik dan tahan lama dapat dicapai.

Mitos vs Fakta 6
Mitos : Bau mulut disebabkan karena adanya masalah di pencernaan.
Fakta : Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa 85 % bau mulut berasal dari gigi dan mulut. Bau mulut yang disebabkan oleh perut sangat jarang terjadi. Bau mulut disebabkan oleh bakteri yang bersarang di dalam mulut, bisa berada di gusi yang meradang, gigi yang berlubang, karang gigi, tambalan yang bocor, dan terutama di bagian belakang lidah. Bakteri yang berkembang dalam lingkungan tanpa oksigen ini memproduksi gas berbau yang disebut ‘volatile sulfur compound’. Inilah yang menyebabkan bau mulut.

Mitos vs Fakta  7
Mitos : Obat kumur dapat menghilangkan bau mulut.
Fakta : Menurut suatu penelitian yang menguji keefektifan obat kumur yang mengandung essential oil, jumlah bakteri berkurang secara bermakna 12 jam setelah penggunaan. Namun obat kumur hanya efektif dalam jangka waktu yang pendek. Malahan, pemilihan obat kumur harus dilakukan secara hati-hati, karena obat kumur berbahan dasar alkohol justru dapat memperberat bau mulut bila digunakan secara berlebihan, karena kandungan alkohol dapat membuat mulut menjadi kering. Untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi bau mulut, pembersihan gigi tidak difokuskan ke permukaan gigi saja melainkan ke seluruh permukaan yang ada di dalam rongga mulut. Terutama jaringan lunak seperti lidah dan gusi.

Mitos vs Fakta  8
Mitos : Pencabutan gigi tidak boleh dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi.
Fakta : Perubahan hormonal yang dialami wanita turut mempengaruhi keadaan di rongga mulutnya. Saat menstruasi, terjadi perubahan hormonal yaitu peningkatan kadar estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan gusi lebih rentan terhadap peradangan. Meski demikian, pencabutan tetap dapat dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi. Untuk menghindari resiko, pencabutan sebaiknya ditunda hingga minggu terakhir siklus menstruasi (hari ke 22-28) di mana kadar estrogen sedang rendah.

Mitos vs Fakta  9
Mitos : Bila gigi anak berlubang tidak perlu ditambal karena nanti juga akan digantikan oleh gigi tetap/permanen.
Fakta : Gigi anak yang berlubang tetap harus ditambal, karena gigi yang berlubang dan tidak dirawat dapat menyebabkan infeksi menjalar ke jaringan pendukung gigi. Hal ini akan mempengaruhi gigi permanennya yang sedang dalam tahap tumbuh kembang. Selain itu adanya karies pada gigi anak dapat menyebabkan anak berkurang nafsu makan dan cenderung rewel.

Mitos vs Fakta 10
Mitos : Sariawan disebabkan oleh kekurangan vitamin C.
Fakta : Sariawan dalam dunia medis disebut dengan aphtous stomatitis. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun ada banyak faktor yang diyakini berkaitan dalam memicu terjadinya sariawan. Di antaranya adalah menurunnya sistem imun (kekebalan tubuh), stress, trauma pada jaringan lunak dalam rongga mulut (seperti tergigit yang berulang-ulang), kurang nutrisi, atau disebabkan karena obat-obatan tertentu. Bila sariawan terjadi berulang-ulang dan hilang timbul, maka disebut recurrent aphtous stomatitis (RAS)

( sumber: klikdokter.com )